Kamis, 13 Desember 2012

! ! ! ! !


Virus HIV
AIDS
pita.gif (18237 bytes)
SAVE YOURSELF !!!

ANTI HIV - participation from Ryanti


Awas HIV/AIDS!

surabaya post, 25 Juli 2012 

SURABAYA - Awas HIV/AIDS! Permintaan kewaspadaan terhadap penyakit itu disampaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya karena jumlah penderita HIV/AIDS di Surabaya terus meningkat. Terhitung sejak 2007 sampai 2011 tercatat 5.576 kasus HIV/AIDS. Jumlah itu belum termasuk jumlah penderita pada akhir Juni 2012 yang sudah mencapai 127 orang. 

Selain itu, jumlah itu merupakan korban yang terdeteksi Dinas Kesehetan (Dinkes) Pemkot Surabaya, sementara korban yang belum terdata atau belum diketahui diperkirakan mencapai dua kali lipatnya. Kepala Dinkes Pemkot Surabaya, Esty Martiana Rachmie menuturkan penderita HIV/AIDS di Surabaya seperti fenomena gunung es. Artinya yang terlihat hanya sebagaian saja, sementara jumlah yang sebenarnya bisa lebih banyak lagi. “Ini jadi peringatan dini bagi kita semua untuk selalu waspada,” ujar Esty Martian, Kamis (25/7). 

Jumlah penderita, katanya, setiap tahun mengalami peningkatan. Lihat saja sejak 2007 jumlah penderita HIV/AIDS ada 214 orang. Jumlah itu meningkat karena pada 2008 mencapai 262 orang. Kemudian apda 2009 jumlahnya mencapai 257 orang. Pada 2010 tercatat 222 orang. Pada 2011 tercatat 175 penderita dan pada Juni 2012 ini sudah tercatat 127 penderita. 

“Kalau pun ada penurunan itu biasanya data dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau pihak ketiga lainnya sudah tak aktif lagi dalam memantau masalah ini. Jadi sebenarnya setiap tahun selalu saja ada peningkatan untuk penderita HIV/AIDS,” ungkapnya. 

Dari semua data itu, katanya, sebagian besar diperoleh dari lokalisasi yang tersebar di Kota Pahlawan. Di antarnya, lokalisasi Dolly, Jarak, Dupak Bangunsasri, Moroseneng dan Sememi. Sementara data untuk penderita dari Pekerja Seks Komersial (PSK) yang biasanya mangkal di hotel, kos, maupun on call belum bisa diperoleh. 

Selain itu, katanya, tak semua PSK mau dites. Hal itu karena PSK yang ada di Surabaya, seperti di Dolly, Dupak Bangunsari, Sememi dan Moroseneng yang jumlahnya sekitar 1.200 PSK, hanya 40% saja yang mau memeriksakan kesehatannya. Sisanya mereka memilih untuk lari ketika ada pemeriksaan. “Selain itu, kami juga tak bisa memaksa PSK untuk melakukan tes kesehatannya,” terangnya. 

Yang lebih memprihatinkan, dari keseluruhan temuan kasus HIV/AIDS di Surabaya, 62,7 persen di antaranya tergolong usia produktif. Yakni, usianya antara 20-39 tahun. Belum lagi efeknya terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya. “Ini jelas situasi yang mengkhawatirkan, karena dampaknya sangat luas yang mengakibatkan kualitas hidup menurun, produktivitas kerja terganggu, dan lain sebagainya,” kata Esty. Menurutnya, masalah ini atau penularan HIV/AIDS di Surabaya sudah menjadi persoalan serius yang membutuhkan pola penanganan yang tepat. Karena itu, Pemkot Surabaya di samping mengalokasikan budget khusus untuk pencegahan dan penanganan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) juga intensif menggelar forum komunikasi penanggulan penyebaran HIV/AIDS. 

Penyebab utama penularan virus paling mematikan ini karena hubungan seks bebas. Sementara penyebab kedua karena terlibat dalam pengunaan narkoba. “Sekarang ini sudah terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu didominasi pengguna narkoba, kini hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIV/AIDS,” katanya. 

Pemkot sendiri, katanya, bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mengajak semua pihak untuk berperan aktif, termasuk aparat kepolisian, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Selama ini penularan HIV/AIDS menjadi persoalan serius yang membutuhkan pola penanganan yang tepat. Untuk itu, Pemkot Surabaya di samping mengalokasikan budget khusus untuk pencegahan dan penanganan ODHA. 

Pada 30-31 Mei lalu, lanjutnya, telah dilaksanakan pelatihan penanggulangan HIV/AIDS bagi staf Kepolisian Sektor se-Surabaya guna mengintegrasikan upaya menghadapi pengguna narkoba yang mempunyai permasalahan hukum terkait dengan kejahatan narkoba maupun tindak pidana lainnya. 

“Diharapkan melalui forum ini, tercipta kesamaan persepsi dan komitmen pihak kepolisian terhadap upaya penanggulangan HIV/AIDS. Juga adanya dukungan akses layanan kesehatan bagi ODHA akibat penggunaan alat suntik (penasun) yang berada di tahanan Lapas maupun tahanan kepolisian,” jelas Esty. Sementara untuk penyebaran virus HIV/AIDS di kalangan muda membuat keprihatinan tersendiri bagi warga Surabaya. Pergaulan bebas dan kemudahan kelompok muda dalam memperoleh narkoba maupun seks bebas menjadi akar persoalan. 

Keprihatinan itu membuat Pemkot melakukan upaya jemput bola dalam memotong penyebaran virus paling menakutkan di dunia. Saat ini, Pemkot mendesak adanya muatan lokal (mulok) HIV/AIDS pada pelajaran di sekolah. “Sebenarnya Pemkot sudah menyiapkan Perda HIV-AIDS. Di dalamnya ada aturan yang menangkal penyebaran virus di tingkatan kelompok muda. Tapi Perdanya memang belum disahkan sampai sekarang. Ini masih disusun,” ujar Esty. 

Ia melanjutkan, meskipun Perda belum disetujui, pihaknya tetap bersinergi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) untuk memasukkan mulok. Artinya, mulok yang dimasukan Dinkes ke tiap sekolah bukan diajarkan sebagai ekstrakurikuler, tapi sudah masuk ke tiap pelajaran. “Jadi nanti di semua pelajaran ada mulok yang menjelaskan tentang HIV/AIDS. Pelajaran IPS ada, IPA ada, bahasa juga ada,” tegasnya. Dengan adanya mulok, katanya, siswa di sekolah diberikan pengetahuan yang luas tentang HIV-AIDS. Termasuk di dalamnya tentang penyebaran yang bisa dihindari. “Kalau mulok tak perlu menunggu Perda, jadi bisa dijalankan dengan segera,” jelasnya. 

Esty juga membeberkan, Pemkot juga menjalin kerjasama dengan LSM di Surabaya yang fokus pada penanganan korban virus HIV/AIDS. Ada pendamping yang akan membantu korban untuk meningkatkan kualitas hidupnya. “Ini masih terus berjalan, kalau ada korban atau informasi kami langsung turun dan menemui korban,” katanya.

Ketua Aisyiyah Jatim itu menambahkan, untuk tempat berobat bagi korban HIV/AIDS hanya ada di RSU dr Soetomo. Sampai saat ini puskesmas yang ada di tiap kecamatan belum bisa memberikan layanan pada para korban. adv

Sumberhttp://www.surabayapost.co.id

Cegah Sejak Dini!


REPUBLIKA.CO.ID, 18 Maret 2012 

Cegah Sejak Dini! merupakan kumpulan tanya-jawab yang membahas berbagai permasalahan penyakit secara lengkap; Mulai dari mengidentifikasi penyebabnya, memaparkan gejala-gejalanya, menyampaikan tips bagaimana mencegah dan menghindarinya, sampai memberi solusi bagaimana mengobatinya. Melalui paparan dan tanggapan cerdas dan solutif Prof. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM diharapkan para pembaca sebagai individu, anggota keluarga, dan bagian dari masyarakat secara umum mampu menyerap informasi penting yang bermanfaat bagi hidup dan lingkungan sekitarnya. Terlebih khusus bagi perempuan yang berperan sentral di dalam kehidupan rumah tangga, sebagai istri, ibu, anak dari orangtua tercinta, pribadi, sekaligus bagian dari masyarakat. 

Tiga masalah kesehatan yang banyak dibahas dalam buku ini, HIV/AIDS, lupus dan kanker, memang amat erat dengan permasalahan yang dihadapi oleh perempuan di Indonesia. Dalam buku ini, kita akan disuguhi berbagai data baru mengenai ketiga masalah tersebut dan banyak lainnya. 

Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM berusaha mengamalkan evidence based medicine. Ia selalu update dengan perkembangan kedokteran, karena itu mampu men¬jawab segala permasalahan kesehatan sesuai prinsip kedokteran berdasar bukti-bukti yang ada. 

Penerbitan buku ini merupakan salah satu upaya preventif agar masyarakat lebih peduli akan kesehatan. Pola hidup sehat, pola makan terjaga, dan olahraga teratur menjadi upaya pencegahan terbaik untuk menghindari berbagai jenis penyakit—mulai dari penyakit ringan sampai penyakit-penyakit yang sampai saat ini masih cukup sulit penanganannya—karena mencegah lebih baik dari mengobati.

Sumberhttp://www.republika.co.id

Mayoritas Penularan Lewat Jarum Suntik

KOMPAS.com, 02 Februari 2012 

BENGKULU - Sebagian besar penderita HIV, positif yang memeriksakan diri di RSUD M Junus, Bengkulu, tertular penyakit itu melalui jarum suntik. 

Sebagian besar dari mereka adalah pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik. 

Hal itu disampaikan Manajer Program Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bengkulu, Abdul Salim Ali Siregar, Kamis (2/2/2012). 

Salim mengatakan, klien HIV positif yang tertular HIV melalui jarum suntik dan memeriksakan diri di RSUD M Junus, merupakan kasus penularan lama mengingat masa inkubasi virus HIV yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. 

Saat ini, kata Salim, PKBI Bengkulu sedang mendampingi 36 klien HIV positif berusia 20-40 tahun, yang merupakan hasil pemeriksaan dari RSUD M Junus Bengkulu dan RSUD Curup, Kabupaten Rejang Lebong. 

Pendampingan yang diberikan berupa pendampingan psikologis, medis, termasuk edukasi seputar HIV/AIDS. 

Pendampingan ini sangat penting, mengingat tidak semua klien HIV positif mengerti tentang HIV/AIDS. 

"Banyak juga ternyata penderita HIV positif yang tidak mengetahui apa itu HIV atau AIDS," ujar Salim. 

Dari 36 klien itu, sebanyak 18 orang di antaranya tertular HIV melalui jarum suntik. Mereka ini pada umumnya pengguna narkoba.

Selain mereka, ada 8 orang klien HIV positif yang merupakan pelanggan wanita pekerja seks (WPS), 5 orang WPS, dan 2 orang waria.

Sumber: http://regional.kompas.com

Wapres: Jalur Transmisi Aids Harus Diputus

Harian Terbit, 11 Desember 2012 

JAKARTA -– AIDS harus dicegah dan dilawan. Akibat menyebarnya HIV dan mengakibatkan AIDS tidak hanya membebani penderitanya saja namun masyarakat banyak ikut terbebani. 

Jalur transmisi penyebaran HIV harus diwaspadai dan diputus. Dan perempuan serta anak merupakan dua kelompok yang rawan terhadap penyakit AIDS. Hal ini dikatakan Wapres Boediono pada puncak peringatan Hari Aids Sedunia yang diadakan di TMII, Selasa (11/12). 

Dalam acara yang juga dihadiri Herawati Boediono, Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar dan Menko Kesra Agung Laksono selaku Ketua Komisi Penanggulangan AIDS, Boediono mengatakan, Indonesia adalah salah satu negara yang masuk dalam taraf endemik terkonsentrasi yang prevalensinya lebih dari 6 persen dari kelompok beresiko yaitu pekerja seks komersial, pengguna jarum suntik dan pelaku seksual sesama jenis. 

“Sejak kasus pertama AIDS masuk ke Indonesia tahun 1987 perkembangannya meningkat cepat.” 

Data terakhir Juli 2012 ada sekitar 118.816 kasus AIDS, diantaranya 86.762 pengidap HIV dan 32.103 AIDS dengan rasio penderita laki-laki dan perempuan 2,41 : 1. 

“Jumlah yang tercatat ini hanyalah puncak dari fenomena gunung es yang kita tidak tahu persis berapa jumlahnya,” katanya. 

Menurutnya, ada 12 provinsi yang memiliki jumlah HIV/AIDS paling tinggi yaitu Jakarta, Papua, Bali, Jatim, Jateng, Jabar, Yogya, Sumut, Kalbar, Sulsel, Riau dan Yogya. 

AIDS penyakit yang bisa mengenai siapa saja termasuk keluarga. “Saya minta pemda terutama 12 provinsi ini jangan mengandalkan dana dari bantuan luar negeri saja. Perusahaan melalui CSR harus pula menganggarkan dana untuk program penanggulangan AIDS,” ujarnya. 

Ditambahkan Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar, tema kampanye peringatan AIDS tahun ini adalah ‘Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS’. 

Perempuan dan anak sebagai fokus kampanye AIDS tahun ini semestinya lebih diperhatikan dan didukung. Karena secara biologis keduanya sangat rentan.

Perempuan dan anak juga memiliki kapasitas tak terbatas untuk bisa membantu upaya penanggulangan HIV AIDS baik untuk diri sendiri, keluarganya maupun lingkungannya.

Sumberhttp://www.harianterbit.com

Menkes Ajak Pengusaha Perangi HIV/AIDS

Berita Satu, 11 Desember 2012 

Kebutuhan penanggulangan HIV/AIDS semakin tinggi karena infeksi baru terus menunjukkan peningkatan 

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menegaskan pentingnya partisipasi dunia usaha dalam pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS. 

Menurut Nafsiah, kebutuhan penanggulangan HIV/AIDS semakin tinggi karena infeksi baru terus menunjukkan peningkatan. Padahal, penderita harus mengkonsumsi obat seumur hidup. Jumlah dana yang dibutuhkan pun semakin meningkat. 

"Pengobatan sepenuhnya ditanggung pemerintah, baik pusat dan daerah," ujarnya usai acara Peringatan Hari AIDS Sedunia, Selasa (11/12). 

Oleh karena itu pemerintah mengajak dunia usaha juga ikut aktif terlibat dalam penanganan HIV/AIDS. Tidak hanya untuk dana, tapi juga pencegahan di perusahaan. 

"Terutama mengajak untuk melakukan pencegahan di perusahaannya. Ternyata yang paling terinfeksi adalah anak muda, migran di perusahaan karena itu langkah pertama dengan pencegahan di perusahaan," tuturnya.

Selain itu, jika ada pegawai yang terdeteksi terjangkit virus HIV/AIDS perusahaan harus tetap membiayai pengobatannya.

Sumberhttp://www.beritasatu.com

Menkes Ajak Pengusaha Perangi HIV/AIDS

Berita Satu, 11 Desember 2012 

Kebutuhan penanggulangan HIV/AIDS semakin tinggi karena infeksi baru terus menunjukkan peningkatan 

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menegaskan pentingnya partisipasi dunia usaha dalam pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS. 

Menurut Nafsiah, kebutuhan penanggulangan HIV/AIDS semakin tinggi karena infeksi baru terus menunjukkan peningkatan. Padahal, penderita harus mengkonsumsi obat seumur hidup. Jumlah dana yang dibutuhkan pun semakin meningkat. 

"Pengobatan sepenuhnya ditanggung pemerintah, baik pusat dan daerah," ujarnya usai acara Peringatan Hari AIDS Sedunia, Selasa (11/12). 

Oleh karena itu pemerintah mengajak dunia usaha juga ikut aktif terlibat dalam penanganan HIV/AIDS. Tidak hanya untuk dana, tapi juga pencegahan di perusahaan. 

"Terutama mengajak untuk melakukan pencegahan di perusahaannya. Ternyata yang paling terinfeksi adalah anak muda, migran di perusahaan karena itu langkah pertama dengan pencegahan di perusahaan," tuturnya.

Selain itu, jika ada pegawai yang terdeteksi terjangkit virus HIV/AIDS perusahaan harus tetap membiayai pengobatannya.

Sumberhttp://www.beritasatu.com

Boediono: Putus Jalur Penularan HIV/AIDS

Berita Satu, 11 Desember 2012 

"Jalur transmisi kepada mereka harus kita waspadai dan harus kita putus." 

Di tengah maraknya kasus HIV-AIDS di Indonesia, Wakil Presiden Boediono mengatakan penting untuk memutus jalur penularan kepada perempuan dan anak-anak. 

Berbicara di acara peringatan Hari AIDS Sedunia, ia mengatakan tema peringatan tahun ini adalah “Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS”. 

”Ini mengingatkan kita akan adanya dua kelompok yang rawan penularan penyakit ini dan memerlukan perhatian khusus, yaitu perempuan dan anak. Jalur transmisi kepada mereka harus kita waspadai dan harus kita putus,” ujarnya di Taman Mini Indonesia Indah, Selasa (11/12). 

Menurutnya, pencegahan dan pemberantasan HIV-AIDS adalah tugas yang amat penting. HIV/AIDS harus dicegah dan dilawan karena penyakit ini tidak hanya membebani kehidupan individu atau kehidupan masing-masing keluarga saja. 

”Tetapi juga akan membebani dan menggerogoti seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat dan bangsa,” ujarnya. 

Boediono menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk pada taraf yang disebut “epidemi terkonsentrasi”. Artinya, Indonesia mempunyai tingkat prevalensi lebih dari 5 persen dalam kelompok populasi risiko tinggi. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik dan mereka yang menjalankan hubungan seksual sesama jenis. 

Kasus HIV/AIDS pertama kali terdeteksi di Indonesia pada tahun 1987 dan terus meningkat dengan cepat. Pada akhir Juni 2012 terdapat 118,865 kasus, terdiri dari 86,762 kasus HIV dan 32.103 kasus AIDS, dengan rasio penderita laki-laki dan perempuan 2,41 dibanding 1. 

Menurut Wapres, data statistik ni hanyalah puncak dari gunung es. Di Indonesia, 12 provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS terbesar yaitu DKI Jakarta, Papua, Papua Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Riau dan DI Yogyakarta. 

Oleh karena itu, ia menegaskan pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS di tanah air adalah tanggungjawab semua komponen masyarakat Indonesia. 

”Pemerintah tentu harus tetap sebagai ujung tombaknya. Tapi semua harus menyingsingkan lengan bajunya jangan sampai keadaan makin memburuk,” ujarnya.

Sumberhttp://www.beritasatu.com

Siswa SMP Ikuti Cerdas Cermat Tentang AIDS

KOMPAS.com, 10 Desember 2012 

BANJARBARU - Puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Banjarbaru, Banjarmasin, dan Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan mengikuti cerdas cermat tentang Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). 

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Banjarbaru Edy Sampana, Minggu mengatakan, kegiatan yang digelar Sabtu (8/12/2012) di aula Gawi Sabarataan Pemkot Banjarbaru diikuti belasan kelompok siswa SMP dari tiga kota itu. 

"Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari AIDS sedunia bekerjasama dengan KPA Kalsel itu mendapat antusiasme siswa terbukti dari belasan kelompok yang mengikuti lomba," ujarnya, Minggu (9/12/2012). 

Ia mengatakan, peserta sengaja diarahkan bagi siswa SMP, sehingga mereka mengetahui sejak dini tentang penyakit HIV/AIDS dan bisa berperan dalam mencegah dan penanggulangi penularan penyakit tersebut. 

Apalagi, kata dia, materi yang diberikan kepada peserta lomba cerdas cermat berkaitan erat dengan HIV/AIDS baik informasi dasar mengenai penyakit mematikan itu maupun pencegahan, penanggulangan dan pengobatannya. 

"Melalui materi lomba peserta bisa mengetahui apa itu penyakit HIV/AIDS, bagaimana penularan sehingga bisa turut berperan dalam upaya mencegah dan menanggulanginya," ungkap dia. 

Pemenang lomba berhadiah uang tunai dan piagam itu adalah SMPN 9 Banjarbaru sebagai juara pertama disusul SMP Islam Qardhan Hasan, dan juara tiga SMPN 6 Martapura serta juara harapan SMPN 2 Martapura. 

Dikatakan, pengetahuan tentang HIV/AIDS sangat penting bagi masyarakat dan diharapkan diketahui sejak usia dini sehingga penularan bisa dicegah dan ditanggulangi bersama pihak terkait. 

"Komisi Penanggulangan AIDS Banjarbaru siap memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang HIV/AIDS dan diharapkan memacu peran aktif masyarakat sehingga bisa mencegah dan menanggulangi penularannya," ujar dia. 

Ditambahkan, kasus penderita HIV/AIDS secara kumulatif sejak tahun 2000-2012 di Kalsel terdata sebanyak 276 kasus HIV dan 225 kasus AIDS, sedangkan di Banjarbaru sebanyak 54 kasus yakni 32 HIV dan 22 AIDS.

"Hampir setiap tahun ditemukan adanya kasus baru sehingga kondisi itu harus mendapat perhatian seluruh pihak dan lapisan masyarakat agar terhindar dari penularan penyakit tersebut," katanya.

Sumberhttp://edukasi.kompas.com

Perilaku Seks Berisiko Sebabkan Kasus HIV-AIDS Meningkat

Ini yang membuat Indonesia terhambat mencapai target MDGs pada 2015

Berita Satu
, 25 Juli 2012 

Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi mengatakan, target pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) bagi Indonesia terhambat dengan masalah HIV-AIDS yang kasusnya terus meningkat. 

"Sebenarnya beberapa bidang kesehatan kita masih bisa mencapai target MDGs pada 2015. Tapi yang membuat kita sulit dengan masih meningkatnya HIV-AIDS dan penyebarannya sudah seluruh wilayah," katanya di Banda Aceh, Rabu (25/7). 

Hal itu disampaikan Menkes seusai membuka rapat kerja kesehatan daerah se Provinsi Aceh dan pembinaan terpadu Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 

Menkes menjelaskan, kesulitan menurunkan angka HIV-AIDS yakni adanya perilaku seks berisiko yang semakin meningkat, sebaliknya rendahnya penggunaan kondom. 

"Pencegahan penyebaran HIV-AIDS bagi pelaku seks berisiko tidak ada lain kecuali dengan penggunaan kondom. Jika penyebaran penyakit ini melalui jarum suntik narkoba sudah mulai menurun dengan adanya jarum suntik steril," katanya. 

Akan tetapi, Nafsiah Mboi juga menjelaskan penyebab lain dari penyebaran kasus HIV-AIDS melalui peredaran obat-obatan penambah nafsu seks, akibatnya terjadi seks berisiko. 

"Sebagai penggantinya, sekarang dengan obat-obat perangsang seks berupa 'ATL' yang berkembang dimana-mana, sehingga terjadi hubungan seks berisiko. Semuanya itu harus diantisipasi sendiri oleh masyarakat," kata dia. 

Data Kemenkes menunjukkan sebanyak 201 kasus HIV-AIDS ditemukan di tahun 2001. Kemudian kasusnya terus meningkat dan menjadi 21.770 kasus di tahun 2010.

Penyebaran kasus HIV-AIDS hampir terdapat di semua provinsi di Indonesia, tapi yang cukup besar antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Papua, berdasarkan data 2010 itu.

Sumberhttp://www.beritasatu.com

Ribuan Kantong Darah di Jember Berpenyakit

TRIBUNNEWS.COM, 17 Juli 2012 

JEMBER - Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI)Jember menemukan sejumlah kantong darah yang positif mengandung virus penyakit. 

Virus yang ditemukan antara lain HIV/AIDS, hepatitis B dan sipilis atau raja singa. 

Untuk kantong darah yang mengandung HIV/AiDS sebanyak empat kantong, 16 kantong mengandung hepatitis B dan enam kantong mengandung sipilis. 

"Itu yang kita temukan dalam donor darah sejak Januari lalu," ujar Direktur UDD PMI Jember dr Dudung Ari Rusli, Selasa (17/7/2012). 

Darah yang dikumpulkan dalam aksi donor darah selalu diseleksi kandungan penyakit di dalamnya. Darah akan diseleksi kandungan virus penyakit HIV/AIDS, hepatitis B, dan sipilis.

"Darah yang positif mengandung penyakit langsung dimusnahkan, tidak diberikan kepada yang membutuhkan. Baru yang benar-benar bersih yang didistribusikan," lanjut Dudung. 

Setiap bulan UDD PMI Jember berhasil mengumpulkan 1.500 - 2.000 kantong darah.

Sumberhttp://www.tribunnews.com

Seribu Siswa Ikuti Jambore Kesehatan

Suara Merdeka, 04 Juli 2012 

BOYOLALI - Seribu siswa/siswi mengikuti jambore kader kesehatan sekolah yang digelar di Wisma Haji Donohudan Boyolali, 2-3 Juli. Mereka adalah murid SD, SMP, dan SMA yang berasal dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Dalam kegiatan yang digelar Dinas Kesehatan Jateng itu, dunia kesehatan dan medis diperkenalkan pada mereka dengan cara game atau permainan dalam out bound. Misalnya, untuk siswa SD diperkenalkan bagaimana menjaga kesehatan tubuh yang baik, seperti mandi dan gosok gigi. 

Untuk anak-anak SMP, mulai diperkenalkan alat-alat dan proses reproduksi dalam tubuh, sedangkan bahaya rokok, narkoba, dan HIV AIDS disajikan untuk materi anak-anak SMA. Seluruh peserta juga diajari melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) sesuai dengan tingkatannya.

‘’Anak itu adalah salah satu agen perubahan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan bekal ilmu dan pengalaman yang didapat selama mengikuti jambore, diharapkan mereka bisa mengaplikasikan dan menularkan,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Jateng Anung Sugihantono, Selasa (3/7). (G8,G10-37)

Sumberhttp://www.suaramerdeka.com

Penderita HIV/AIDS Kalbar di Peringkat 7 Setahun Meningkat 2.000 Kasus

Harian Equator, 02 Desember 2012 

Pontianak – Setiap memperingati Hari HIV/AIDS Sedunia, saat itu pula penderita penyakit yang belum ada obatnya ini meningkat kasusnya di Kalbar. Hingga Oktober 2012 mencapai 3.702 kasus HIV yang terdeteksi. 

“Jumlahnya naik hingga 2.000 kasus dibanding tahun lalu. Temuan peningkatan jumlah penderita HIV menunjukkan aktivitas voluntary counseling testing (VCT) berjalan baik,” ungkap Koordinator Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalbar Syarif Totok Alkadrie kepada wartawan, kemarin. 

Sementara jumlah penderita tahun 2012 ini mencapai 1.700 kasus. Sebanyak 511 orang dengan HIV/AIDS dinyatakan meninggal dunia 

Temuan VCT juga mengungkapkan, bahwa faktor risiko tertinggi penularan HIV/AIDS di Kalbar masih didominasi oleh hubungan seks di kalangan heteroseksual yang berisiko. 

Terkait peringatan Hari AIDS Sedunia, Totok menegaskan diperlukannya penguatan sinergi seluruh pihak. Peran terpenting, menurut dia, ada pada para pemuka agama dan tokoh masyarakat. 

Para panutan masyarakat diharapkan untuk terus-menerus mensosialisasikan pentingnya menjaga perilaku dan menjauhkan masyarakat dari hal-hal yang berisiko penularan HIV/AIDS. 

“Di sisi lain, kaum pria diharapkan bisa menghargai dan memerhatikan hak-hak reproduksi perempuan. Masyarakat juga dituntut untuk menghapuskan stigma dan diskriminasi terhadap mereka yang dinyatakan mengidap HIV/AIDS,” kata Totok. 

Risiko pelacuran 

Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia 1 Desember di Pontianak diwarnai aksi solidaritas ratusan mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak, Sabtu (1/12), di Bundaran Digulis Untan. 

Mereka membagikan bunga kepada pengendara kendaraan yang lewat untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko HIV/AIDS, namun jangan dikecam sebagai aib. 

Para mahasiswa yang setiap harinya bergumul dengan ilmu kesehatan masyarakat, itu juga menggelar aksi teatrikal. Inilah bentuk keprihatinan terhadap kian meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kalbar. Dari semua aksi itu, para mahasiswa berupaya menyampaikan pesan mengenai bagaimana seharusnya menghadapi bahaya HIV/AIDS. 

“Kita mengadakan aksi solidaritas karena prihatin dengan semakin maraknya kasus HIV/AIDS di daerah ini. Di Indonesia sekarang sudah hampir mencapai 28 ribu penderita yang terdata. Belum lagi yang tidak terdata,” ungkap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak Andi Juanda kepada wartawan kemarin. 

Penderita HIV/AIDS di Indonesia memang cenderung meningkat sejak didata kali pertama tahun 1987 sampai tahun 2012. Bahkan untuk Kalbar sepanjang tahun 2012 hingga Oktober, jumlah kasus HIV di Kalbar naik hingga 2.000 kasus. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), rate cumulative kasus AIDS nasional hingga September 2012 adalah 11 per 100 ribu penduduk. Data itu juga menerangkan pada 1987 hingga September 2012, Provinsi Papua tercatat sebagai daerah dengan penderita HIV tertinggi di Indonesia. 

Papua terdata memiliki 7.572 kasus HIV, diikuti DKI Jakarta dengan 6.299 kasus, Jawa Timur 5.257 kasus, Jawa Barat 4.098 kasus, Bali 2.939 kasus, dan Jawa Tengah 2.503 kasus. 

Sementara Kalimantan Barat terdapat 1.699 kasus, Sulawesi Selatan dengan 1.377 kasus, Riau 755 kasus, dan Sumatera Barat 715 kasus. Dari data Kemenkes menunjukkan Kalbar secara menyedihkan berada di peringkat tujuh. Karena itu, Andi mewakili solidaritas mahasiswa prihatin dengan kondisi Kalbar menanggulangi HIV/AIDS. 

“Pemerintah seharusnya lebih gencar lagi menangani kasus HIV/AIDS ini. Terutama pada ibu dan anak yang sangat rentan terjangkiti,” paparnya. 

Para mahasiswa FK Muhammadiyah juga meminta seluruh jajaran pemerintahan untuk menutup tempat-tempat lokalisasi. Pemerintah tidak mampu memberikan jaminan kalau praktik pelacuran tidak menyebarkan HIV hingga ke kamar tidur pasangan suami istri.

“Kami berharap kepada seluruh rakyat Indonesia dan Kalbar khususnya, agar menjauhi HIV/AIDS. Kemudian jangan menyudutkan kalau ada teman kita yang terkena. Boleh jadi mereka hanya korban dan punya hak untuk hidup selayaknya manusia sempurna,” sarannya. (kie)

Sumberhttp://www.equator-news.com

Di Bogor Penderita HIV/AIDS Didominasi Ibu Rumah Tangga

Pos Kota, 30 November 2012 

BOGOR – Penderita HIV/AIDS, kini didominasi kalangan ibu rumah tangga (IRT). Ibu rumah tangga yang menderita penyakit mematikan ini jumlahnya menggeser posisi wanita pekerja seks (PSK) yang turun ke posisi sembilan. 

Untuk Kota Bogor penderita HIV/AIDS, berdasarkan data, menduduki posisi ke tiga setelah Kota Bandung dan Cianjur. Temuan ini, membuat Pemda Kota Bogor merasa tidak nyaman. Langkah antisipasi lalu dilakukan. Bahkan kecenderungan meningkat 12 persen setiap tahunnya. 

Hasil penelitian, ternyata penyebabnya berasal dari suami yang sering jajan di luar. Virus yang ditularkan dari PSK positif HIV/Aids, lalu dibawa suami ke rumah. Tanpa sadar, istri tertular saat melakukan hubungan suami istri. 

Data penderita HIV/Aids di Kota Bogor hingga tahun 2012, penderita HIV mencapai 1.542 orang. Sedangkan AIDS mencapai 949 orang. Dari jumlah ini, 65 orang meninggal. 

“Dari jumlah baik HIV maupun AIDS, 60 persen lebih adalah ibu rumah tangga. Makanya Walikota Bogor, Diani Budiarto mengalokasikan anggaran lebih untuk pencegahan dan penanggulangan pasien,”kata ketua pelaksana harian Badan Penanggulangan Aids Daerah (BPAD) Kota Bogor, Edgar Suratman Jumat (30/11) siang. 

Selain ibu rumah tangga, narapidana di LP Pledang juga banyak yang mengidap penyakit mematikan ini. Mereka tertular dari penggunaan jarum suntik secara bergantian. 

Edgar yang juga Asda 1 bidang pemerintahan Kota Bogor ini menambahkan, hubungan sesama jenis baik waria maupun lesbian juga memberikan angka penderita yang sagat signifikan. Data yang dimiliki BPAD tercatat ada 339 wanita pekerja seks, 300 waria mengidap HIV/AIDS. 

Yusniar Ritonga, Ketua Konselir HIV/AIDS Kota Bogor mengaku, untuk langkah pencegahan, pihaknya melakukan tes darah bagi ibu hamil. Namun langkah ini tidak berjalan lancar, akibat masih banyak ibu rumah tangga yang menolak dilakukan tes darah guna memastikan apakah mereka terinfeksi atau tidak. Para kaum ibu masih merasa tabu dengan uji kesehatan ini.

Bagi penderita HIV/AIDS yag mengikuti konseling dan rehabilitasi di rumah sakit, selain digratiskan, juga mereka akan diberi bekal modal untuk berusaha. Pemberian modal usaha ini, untuk mencegah mereka kembali lagi berprofesi sebagai WPS. (yopi)

Sumberhttp://www.poskotanews.com

Obat ARV Generik Bisa Turunkan Penularan HIV

TRIBUNNEWS.COM, 17 Oktober 2012 

JAKARTA - Adanya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pelaksaaan Paten oleh Pemerintah terhadap Obat Antiviral dan Antiretroviral dianggap mampu menurunkan tingkat penularan baru HIV di Indonesia. 

Hal ini diutarakan oleh Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) dalam rilisnya yang diterima Tribunnews.com, Rabu (17/10/2012). 

“Kehadiran Perpres ini membuat kita punya kesempatan mengalahkan epidemi AIDS di Indonesia. Tingkat keberhasilan terapi obat ARV pada ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat penularan baru HIV sebesar 96%," jelas Aditya. 

Sehingga menurut Aditya, dengan semakin banyaknya jenis ARV, maka diharapkan keberhasilan pengobatan pada ODHA akan semakin meningkat sehingga angka penularan baru bisa menurun. Dan dapat diambil kesimpulan, pengobatan pada ODHA sama dengan pencegahan HIV pada masyarakat. 

Lebih lanjut Aditya mengatakan, selama ini ganjalan bagi ODHA dalam memulai dan menjalankan terapi ARV adalah masih adanya ketakutan akan efek samping dari obat yang jenisnya terbatas serta keberlanjutan terapi ini.

Kemudian adanya produksi dalam negeri dengan jenis yang memadai diharapkan akan memupus ketakutan-ketakutan ini. Tak hanya itu, kehadiran ARV secara berkesinambungan juga akan membantu menghilangkan stigma bahwa HIV sama dengan kematian. 

"Ini adalah pesan positif bagi kesehatan publik. Dengan terapi ARV, ODHA bisa tetap bertahan sehat sampai berpuluh tahun. Ini merupakan kampanye bagi masyarakat untuk kemudian berani melakukan tes HIV," ungkap Aditya.

Sumber
http://www.tribunnews.com

Cegah HIV/AIDS Lewat Sosial Media

BERITAJAKARTA.COM, 27 September 2012 

Perkembangan teknologi informasi juga memiliki dampak positif jika dimanfaatkan secara benar. Salah satunya untuk mendukung program pemerintah mengampanyekan bahaya HIV/AIDS di kalangan generasi muda yang sangat rawan dengan perilaku seks bebas. 

Pakar Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Krisna Murti mengungkapkan, pencegahan penularan kasus HIV/AIDS harus dilakukan secara maksimal, khususnya terhadap orang berusia muda. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk melakukan pencegahan tersebut adalah perlu adanya pemanfaatan sosial media yang ada saat ini. "Selain sosial yang ada saat ini seperti Facebook atau Twitter, sosialisasi dan pencegahan juga bisa dilakukan melalui media elektonik seperti telepon seluler dengan menayangkan video bahaya HIV/AIDS," katanya, saat workshop penyusunan rencana strategis lima tahun (Renstra) KPAP DKI, Kamis (28/9). 

Selain itu, lanjutnya, diperlukan adanya keterlibatan tokoh-tokoh dan kaum muda, serta adanya peningkatan kompetensi penyuluh dan relawan. 

Akademisi UI, Ade Sasongko menambahkan, secara keseluruhan upaya yang dilakukan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI dalam mencegah penularan HIV/AIDS sudah cukup baik. Namun, ia meminta agar program yang direncanakan harus dapat memahami karateristik masyarakat DKI, sehingga program bisa dikemas dan dicerna dengan baik. "Dari program yang sudah ada dan yang direncanakan, harus ada keterlibatan di luar instansi pemerintah, dalam hal ini adalah LSM yang peduli dengan HIV/AIDS," katanya. 

Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, Masdar Mashudi mengungkapkan, dalam kasus penularan HIV/AIDS ada aspek moralitas. Untuk itu, agama harus terlibat dan membangun perspektif keagamaan yang lebih manusiawi. Dalam menekan pertumbuhan kasus HIV/AIDS, ia menilai diperlukan adanya imbauan secara langsung melalui media yang efektif di lokasi yang menjadi tempat berkembangnya kasus tersebut, seperti lokasisasi. "Bisa juga dilakukan dengan cara pemasangan stiker di tempat lokalisasi. Isinya tentang bahaya seks di luar nikah, serta bahayanya HIV/AIDS," ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris KPAP DKI Jakarta, Rohana Manggala mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS merupakan salah satu program prioritas Pemprov DKI Jakarta. Salah satu tugas pokoknya adalah, memonitor dan mengevaluasi hasil program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi DKI Jakarta yang dilaksanakan oleh pemerintah dan non pemerintah. Menurutnya, sudah banyak kegiatan yang dilakukan pihaknya maupun oleh LSM peduli AIDS dukungan mitra internasional, di bawah koordinasi dan fasilitasi KPA Provinsi DKI Jakarta, melalui program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di DKI Jakarta. 

"Pelaksanaan program penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta difokuskan pada upaya pencegahan pada kelompok resiko tinggi dan upaya perawatan, dukungan dan pengobatan pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Target program adalah penjangkauan secara efektif kelompok resiko tinggi transmisi seksual dan jarum suntik sebanyak 80 persen pada tahun 2010 dengan target perubahan perilaku sebanyak 60 persen pada masing-masing kelompok," jelasnya. 

Dijelaskannya, tujuan Renstrada 2008-2012 adalah dapat dicegahnya 16 ribu infeksi baru di DKI Jakarta pada tahun 2012. Untuk mencapai tujuan tersebut, minimal 80 persen populasi kunci harus mendapatkan intervensi program pencegahan, 60 persen populasi berperilaku aman terhadap penularan HIV dan 70 persen pembiayaan lokal untuk kesinambungan program HIV/AIDS. Menurutnya, fokus program ini terbukti efektif untuk tingkat epidemi yang masih terkonsentrasi pada kelompok resiko tinggi. Dalam skenario program ini, akan dapat dicegah infeksi baru sebesar 16.000 pada tahun 2010 dan 32.000 pada tahun 2012.

Sumberhttp://www.beritajakarta.com

Empat Kantong Darah PMI Mojokerto Terinfeksi HIV/Aids

Lensa Indonesia, 12 Desember 2012 

Di kurun waktu tahun 2012, tercatat 4 kantong darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Mojokerto terdeteksi positif HIV/AIDS. Empat kantong darah yang terdeteksi penyakit mematikan tersebut berasal dari pendonor tatkala digelar donor darah massal di sejumlah perusahaan-perusahaan. 

Saat ini, seluruh kantong darah yang terdeteksi HIV/AIDS tersebut sudah dimusnahkan oleh PMI. “Dari keempat kantong darah tersebut didapat dari satu pendonor perempuan, tiga pendonor laki-laki,” ungkap Dr.Widyastuti, Kepala UPTD PMI Kota Moajokerto, Rabu (12/12/2012). 

Ia menengarai, biang HIV/AIDS yang terdeteksi berasal para laki-laki yang suka ‘jajan’ hingga menularkan ke istri mereka. “Laki-laki yang tidak setia pada satu pasangan dan cenderung suka ‘jajan’, rentan terjangkit dan sekaligus penular HIV/AIDS,” katanya. 

Jumlah kasus yang sama juga terjadi pada tahun sebelumnya. Tahun 2011 juga ditemukan empat kasus darah yang tereaktif HIV/AIDS. Dua pendonor perempuan dan dua pendonor laki-laki. ”Dan status sosialnya sama, mereka pekerja pabrik,” terangnya. 

Menurut dia, proses pendeteksian darah terkena HIV/AIDS dilakukan dengan beberapa tahapan. Setelah ada donor, darah tersebut akan dikarantina selama satu jam kemudian dilakukan penyaringan dan akan terlihat apakah terjangkit tidak. Yang terdeteksi HIV/AIDS, rata-rata adalah pendatang, bukan warga Kota Mojokerto,” sergahnya. 

Hingga hari ini, stok PMI Kota Mojokerto sebanyak 586 kantong. Terinci, golongan darah A, 137 kantong, B 84 kantong, O 302 kantong, AB 60 kantong. Trombosit A, 2 kantong dan B 1 kantong.

“Jumlah ini belum ditambah 100 kantong dari pendonor dalam rangka HKSN ini,” tukas dia.@Wind

Sumberhttp://www.lensaindonesia.com

Jika Tak Diobati, Pengidap AIDS Bisa Buta

detikHealth, 10 Desember 2012 

Jakarta, Karena tak mudah terdeteksi, pasien AIDS seringkali tak tahu jika ia mengidap penyakit tersebut. Bisa juga karena pengobatannya yang menelan banyak bisa membuat pasien enggan berobat. Padahal jika penyakit yang merusak sistem kekebalan ini tak terdiagnosis dan tak terobati dalam waktu lama dapat memicu munculnya virus yang disebut cytomegalovirus (CMV) dan menyebabkan kebutaan. 

Hal ini dikemukakan oleh Dr. Linda Visser dari Department of Ophthalmology, University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan yang telah menangani gangguan mata pada pengidap HIV sejak tahun 1999. 

Dr. Visser mengungkapkan bahwa cytomegalovirus ini seringkali menyerang retina atau jaringan saraf mata. Masalahnya, jika rusak jaringan itu takkan dapat diregenerasi lagi. Tapi jika salah satu bagian dari retina yang bertanggung jawab terhadap proses penglihatan tidak terpengaruh virus, gangguan ini masih bisa diobati. 

"Virus ini menyebabkan retina, terutama di bagian makularnya mengalami nekrosis. Padahal sekali makular mengalami nekrosis maka Anda takkan bisa melihat lagi dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan penglihatan Anda. Beruntung tidak semua pasien yang makularnya terkena, tapi di periferi atau pinggirannya sehingga kami masih bisa mengatasinya," ujar Visser seperti dilansir dari indiavision, Senin (10/12/2012). 

Dari keterangan Dr. Visser juga terungkap bahwa 75 persen orang yang terinfeksi HIV akan mengalami sejumlah gangguan mata, sedangkan 10 persen lainnya benar-benar buta seluruhnya, baik pada satu mata ataupun keduanya. 

"Namun sebenarnya kasus semacam ini hanya ditemukan pada pasien immunocompromised (kekebalannya lemah) seperti halnya pasien HIV, sebaliknya kami tak pernah menemukan kasus serupa pada pasien imunokompeten. Lagipula sejauh ini HIV dilaporkan sebagai penyebab tekanan kekebalan yang paling banyak ditemukan maka kami bisa melihat kemungkinan gangguan mata ini pada 95 persen pasien HIV positif. Tapi saya juga pernah melihatnya pada pasien transplantasi, leukemia dan kanker lainnya," paparnya.

Pada pasien yang terinfeksi HIV-pun, gangguan ini hanya terjadi ketika pasien membiarkan kondisinya terlalu lama tanpa diobati sama sekali dan jumlah sel CD 4-nya menurun hingga mencapai jumlah yang berbahaya.

Sumberhttp://health.detik.com

Bahaya AIDS Diperingati Tiap Tahun

METRO, 07 Desember 2012 

PESSEL - Peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember lalu dimeriahkan dengan senam pagi melibatkan puluhan PNS di lingkungan Pemkab Pessel. 

Kepala Dinas Kesehatan Pessel dr Syahrial Antoni mengatakan, peringatan hari AIDS sedunia kali ini dimaksudkan untuk mewaspadai virus HIV dan AIDS yang semakin hari kian meningkat. 

Untuk upaya dan mencegah virus HIV dan AIDS dengan tidak mendekati hal – hal yang akan mengakibatkan terjadinya penyebaran virus ini, seperti penyalahgunaan narkoba, psikotropika dan pergaulan bebas. 

Orangtua dan sekolah mesti memberi penjelasan tentang bahaya AIDS. Sosialisasi salah satunya dalam bentuk seminar oleh Dinkes. (cr18)

Sumber
http://www.posmetropadang.com

258 Orang di Kendal Positif HIV/AIDS

Suaramerdeka.com, 07 Desember 2012 

KENDAL - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Kendal tahun 2012 ini mencapai sekitar 258 orang, hal tersebut terungkap dalam peringatan Hari AIDS yang digelar di halaman Gedung A Setda Kendal, Jumat (7/12). 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, dari 258 orang pengidap HIV/AIDS, sebanyak 101 orang merupakan pekerja seks dan 57 orang ibu rumah tangga. 

Bahkan menurut data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Kendal, sebanyak 8 anak-anak juga diketahui mengidap HIV/AIDS. Lima orang anak telah meninggal, sedangkan tiga sisanya masih menjalani perawatan. 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Bupati Kendal H. Mukh. Mustamsikin mengatakan, perlu ada upaya pencegahan dan penanganan yang sangat serius untuk mengantisipasi semakin bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kendal. 

“Perilaku dan pola hidup sehat perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Dirinya juga menghimbau, agar menjauhi seks bebas dan menyimpang serta narkoba. Serta terus melakukan penyuluhan dengan melibatkan semua pihak termasuk SKPD, stakeholder serta masyarakat.

Sumberhttp://www.suaramerdeka.com

Kasus HIV/AIDS Serang Usia Produktif


PRLM, 06 Desember 2012 

INDRAMAYU - Salah satu upaya untuk menekan korban akibat Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) pihak Pemeritah Kabupaten (Pemkab) Indramayu telah menyediakan empat puskesmas yang menangani kasus tersebut. Keempat puskesmas itu, puskesmas Jatibarang, Karangampel, Margadadi dan Kandanghaur. 

Kepala Puskesmas Jatibarang, Hj. Titin mengatakan, dalam jeda waktu satu bulan belakangan sedikitnya terdapat 50 – 60 pasien akibat tertular infeksi menular seksual (IMS) yang dampaknya rawan kearah HIV/AIDS, dari jumlah tersebut sebagian besar merupakan usia produktif. 

“Setelah dilakukan tes ternyata dua orang dari jumlah itu, dinyatakan positif terkena HIV/AIDS,”ujarnya. Kamis (6/12). 

Menurut Titin, puskesmas Jatibarang memiliki tim khusus dalam menangani pasien terduga terjangkit IMS, alasan itu karena para pasien IMS memiliki karakter yang berbeda-beda. Sehingga perlu dibentuk tim khusus, dalam mengambil setiap langkah lanjutan dan kebijakan menangani pasiennya. 

“Pasien yang konsultasi terkait dugaan terjangkit IMS bukan saja berasal dari masyarakat sekitar Jatibarang, tetapi tidak sedikit yang datang dari luar Jatibarang yang tentunya dengan berbagai alasan,”katanya. 

Untuk menghindari stigma negatif terhadap pasien IMS maupun HIV/AIDS, tim berupaya melakukan pendekatan terhadap lingkungan domisili pasien dengan melibatkan pihak pemerintah desa (pemdes). 

“Hal itu, dilakukan agar kehidupan si-penderita dugaan HIV/AIDS tidak merasa dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya. Sehingga, dapat berbaur sepertihalnya orang-orang lain. Karena, semakin dikucilkan maka besar kemungkinan kehidupannya akan tertutup dan semakin mempersilit tim dalam menangani dugaan kasus HIV/AIDS yang ada disekitar masyarakat,”ungkap Titin. 

Kadiskes Kab.Indramayu, H.Dedi Rohendi menyimpulkan, hingga bulan Oktober 2012 kasus HIV/AIDS di Kab.Indramayu telah mencapai hingga 885 kasus, angka tersebut dihitung kumulatif sejak pendataan tahun 1993 lalu.

“Peran upaya pendekatan tim atau petugas lapangan terhadap pasien dugaan terkena HIV/AIDS, dapat digambarkan penentuan keberhasilan dilapangan. Dan,stigma masyarakat terhadap pasien dugaan HIV/AIDS merupakan suatu tantangan dalam upaya penanganan penderita HIV/AIDS, karena rasa malu ataupun takut karena dianggap penyakit aib akan mempersulit tim medis,”pungkasnya. (rat/A-107)***

Sumberhttp://www.pikiran-rakyat.com

Penderita HIV/AIDS di AS 1,2 Juta Orang

Metrotvnews.com, 06 Desember 2012 

Atlanta: Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat memperkirakan jumlah penderita HIV/AIDS di Negeri Paman Sam sekitar 1,2 juta orang. Mereka juga mengatakan, setiap tahun, jumlah orang yang tertular HIV sekitar 45 ribu orang. 

Pakar kesehatan masyarakat menambhakn sekitar 25 persen dari mereka tidak sadar telah tertular virus itu. Karenanya, lembaga Emory Center for AIDS Research, di Atlanta, Georgia, menganjurkan pemeriksaan dini bagi seluruh warga AS. 

Salah satu direktur Emory Center for AIDS Research, Carlos Del Rio mengatakan pemeriksaan itu penting karena dua alasan. 

"Orang yang menjalani pemeriksaan lebih kecil kemungkinannya berkembang menjadi penyakit, dan yang sama pentingnya, orang itu lebih kecil kemungkinannya menularkan penyakit ke orang lain. Jadi memulai terapi dini akan mengarah pada hasil yang lebih baik,” paparnya. 

Para pakar mengatakan, deteksi dini, ketika sistem kekebalan tubuh pasien masih relatif utuh, meningkatkan kemungkinan mereka hidup lebih lama dan tidak menularkan virus itu ke orang lain. 

Pada tahun 2005, Satuan Tugas Dinas Pencegahan Penyakit di Amerika menyarankan tes HIV untuk orang dewasa yang beresiko tertular, termasuk mereka yang melakukan hubungan seks tidak terlindung dengan lebih dari satu pasangan, dan pengguna narkoba suntik. Sekarang, untuk pertama kalinya, kata Del Rio, tes HIV akan ditawarkan sebagai alat pemeriksaan dini, bukan hanya alat diagnosis setelah pasien mengeluh kepada dokter. 

Seperti tes kesehatan rutin lainnya, kata Del Rio, tes ini sifatnya suka rela. 

"Jadi, jika Anda tidak ingin dites, Anda tidak perlu dites. Maksud saya jika saya pergi ke dokter saya dan dia mengatakan, 'Tahukan Anda, Satuan Tugas Dinas Pencegahan Penyakit Amerika menyarankan kita melakukan tes HIV,' dan saya mengatakan saya tidak ingin itu, saya tidak harus melakukannya. Ini bukan keharusan," paparnya lagi. 

Sebelum membuat rekomendasi skrining baru mereka, anggota Satgas itu setuju bahwa tes harus akurat, pengobatan untuk virus AIDS harus tersedia, dan yang terpenting, manfaat tes harus lebih besar daripada kerugian apapun bagi orang yang dites.

Penjelasan rekomendasi tes HIV sukarela ini dimuat dalam jurnal Annals of Internal Medicine. (VOA/Wrt3)

Sumberhttp://www.metrotvnews.com

Pengetahuan Remaja Soal HIV/AIDS Masih Minim

JAKARTA - Pemahaman tentang HIV/AIDS di kalangan remaja Indonesia ternyata masih minim. Menurut data Kementerian Kesehatan, setelah dilakukan survey, dari sekitar 65 juta remaja usia 14-24 tahun, hanya 20,6 persen yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV yang salah satu cara penularannya melalui hubungan seksual. 

"Sungguh memprihatinkan ketika dari jumlah remaja yang begitu banyak hanya 20-an persen yang mengerti secara komprehensif, masih ada 80 persen yang harus diberi pendidikan," kata Nafisah Mboi, Menteri Kesehatan RI, pada konferensi pers dalam rangka Pekan Kondom Nasional 2012, Rabu (5/12/2012) di Jakarta. 

Menurut Nafsiah, pendidikan tentang seks sebagai salah satu upaya pencegahan HIV/AIDS di Indonesia masih dianggap tabu, dan belum mendapat perhatian yang cukup dari seluruh kalangan. Seharusnya, pendidikan seks dilakukan sedini mungkin sejak anak sudah mulai mengerti dan dapat melakukan hubungan seks. Usia 14-24 tahun merupakan usia yang rentan terinfeksi HIV sehingga perlu dibekali pengetahuan yang cukup tentang seksualitas. 

Data dari Kemenkes menyatakan, usia terbanyak kasus AIDS adalah pada usia 20-29 tahun. Hal ini berarti diperkirakan mereka yang menderita AIDS terjangkit HIV sekitar 5 tahun sebelumnya yaitu pada usia remaja. Pendidikan seks tidak harus dilakukan secara formal di sekolah, namun bisa melalui berbagai media, seperti media sosial yang disukai anak muda. 

"Dengan kemudahan akses, maka remaja akan lebih tertarik untuk mengetahui informasi tentang pendidikan seks. Selain itu media cetak dan online dapat melakukan kerja sama dengan pemerintah untuk selalu update pendidikan seks dengan teratur, agar pesannya langsung sampai pada remaja," saran Nafsiah.

Sumberhttp://health.kompas.com

35 Orang Meninggal Dunia Akibat HIV/AIDS di Angola

Luanda - Setidaknya 35 orang meninggal karena HIV / AIDS diantara 1.438 kasus yang dilaporkan sejak Januari di provinsi selatan Huila di Angola, kantor berita resmi Angop melaporkan. 

Korban tewas menandai kenaikan dari 10 orang dibandingkan dengan periode yang sama 2011, menurut Gabriel Nionissa, pengawas provinsi Program Melawan AIDS di bawah pemerintah di mana terdapat dua kasus lebih sejak setahun yang lalu. 

Para pejabat mengatakan kematian dilaporkan di kota-kota dari Lubango, Matala, Jamba, Quilengues dan Gambos, sebagian besar disebabkan oleh kelalaian orang menolak perawatan di rumah sakit. 

Awal bulan ini, Direktur Institut Angola untuk Melawan HIV / AIDS Dulcelina Serrano melaporkan bahwa negara Afrika bagian selatan memiliki 203.906 orang dewasa yang terinfeksi penyakit ini, atau 2 persen penduduk usia aktif secara seksual 15 sampai 45.

Direktur mengatakan 21.411 kasus positif baru didiagnosis sejauh tahun ini, termasuk 15.864 orang dewasa, 1.351 anak-anak dan 4.196 wanita hamil. (*/mok)

Sumberhttp://www.wartanews.com

PBB: Pendidikan Seks Seperti Vaksin Pencegah HIV/AIDS

Pendidikan seks memberi pengetahuan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan

Pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja putri bisa menjadi bekal untuk mencegah penyebaran epidemi HIV/AIDS, yang saat ini mulai mengintai ibu rumah tangga. 

Bahkan fungsinya, kata Executive Director UN Women, Michelle Bachelet, seperti vaksin pencegah HIV/AIDS. 

"Kami percaya pentingnya pendidikan seks bagi remaja putri, karena pendidikan tersebut memberi pengetahuan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," ujarnya dalam kunjungannya ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan Organisasi Kerjasama negara-negara Islam (OKI), Selasa (04/12). 

Menanggapi maraknya infeksi penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS di Indonesia, ia mengatakan, Indonesia harus memperbanyak fasilitas kesehatan yang terintegrasi dengan layanan kesehatan reproduksi. 

Selain epidemi HIV, mantan Presiden Cile tersebut juga menyatakan keprihatinannya terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yang masih sangat tinggi. 

"Mungkin ini memang sangat sulit ditangani, Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pulau, ada masalah pedesaan dan transportasi," ujarnya. 

Michelle menekankan investasi pada perempuan termasuk di bidang akses kesehatan sangat vital bagi kemajuan suatu negara secara keseluruhan.

"Terkadang orang mengatakan hal itu gampang dilakukan, karena negara itu adalah negara kaya. Padahal suatu negara bisa menjadi kaya, karena saat masih miskin mereka berinvestasi untuk kemajuan perempuan di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi," ujarnya.

Sumber: http://www.beritasatu.com

DEFINISI


AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan dari gejala dan infeksi atau biasa disebut sindrom yang diakibatkan oleh kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia karena virus HIV, sementara HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat melemahkan kekebalan tubuh pada manusia. Jika seseorang terkena virus semacam ini akan mudah terserang infeksi oportunistik atau mudah terkena tumor. Untuk sampai saat ini, penyakit HIV AIDS belum bisa disembuhkan dan ditemukan obatnya, kalau pun ada itu hanya menghentikan atau memperlambat perkembangan virusnya saja.

Virus HIV dan virus-virus sejenisnya seperti  SIV, FIV dan lain-lain biasanya tertular melalui kontak langsung antara aliran darah dengan cairan tubuh yang didalamnya terkandung HIV, yakni darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan virus ini sering terjadi pada saat seseorang berhubungan intim, jarum suntik yang terkontaminasi, transfusi darah, ibu yang sedang menyusui, dan berbagai macam bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.


AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan. Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula. Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.